Breaking News

Labels

Sabtu, 26 Juli 2014

Kewajiban Berbakti kepada Orang Tua


Kewajiban Berbakti kepada Orang Tua

KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَقُوْمُوْا بِمَا أَوْجَبَ اللهُ عَلَيْكُمْ مِنْ حَقِّهِ وَحُقُوْقِ عِبَادِهِ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji hanyalah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki kesempurnaan pada seluruh nama dan sifat-Nya. Kita memuji-Nya dan memohon pertolongan-Nya, serta memohon ampunan-Nya. Kita berlindung kepada-Nya atas kesalahan diri-diri kita dan kejelekan amalan-amalan kita. Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah Subhanahu wa Ta’ala curahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya, serta kepada seluruh kaum muslimin yang benar-benar mengikuti petunjuknya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak untuk diibadahi, kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Hadirin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan kewajiban-kewajiban kita kepada-Nya dan kewajiban yang harus ditunaikan terhadap hamba-hamba-Nya.
Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwa kewajiban paling besar yang harus ditunaikan oleh seorang hamba setelah kewajibannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya adalah kewajiban dalam memenuhi hak orangtua. Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya,
وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَتُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kalian kepada kedua orangtua.” (An-Nisa’: 36)
Di dalam ayat lainnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَوَصَّيْنَا اْلإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orangtuanya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah-payah (pula).” (Al-Ahqaf: 15)
Semakna dengan ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ
Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.” (Luqman: 14)
Pada dua ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan betapa pentingnya kewajiban berbakti kepada orangtua dengan menggambarkan betapa besarnya pengorbanan dan jasa orangtua terutama ibu kepada anaknya. Maka, sudah semestinya bagi seorang anak untuk berbuat baik kepada orangtuanya, karena orang yang berakal tentu tidak akan melupakan kebaikan orang lain terhadapnya apalagi membalas kebaikannya dengan menyakitinya. Maka, apakah layak bagi seorang anak untuk melupakan kebaikan orangtuanya sehingga tidak berbuat baik kepadanya? Begitu pula, tentu lebih tidak pantas lagi bagi seorang anak untuk menyakiti orangtuanya yang telah terus-menerus berbuat baik kepadanya dengan mengeluarkan pengorbanan yang sangat besar bahkan hingga mempertaruhkan nyawanya.
Hadirin rahimakumullah,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah menyebutkan besarnya keutamaan berbakti kepada orangtua. Bahkan, lebih besar dari jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain, dari sahabat Abdullah ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,
سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلّيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا. قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ. قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ
Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Shalat pada waktunya.” Aku berkata, “Kemudian apa?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Berbakti kepada orang tua.” Aku berkata, “Kemudian apa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kemudian jihad di jalan Allah.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)
Dari ayat-ayat dan hadits di atas serta yang lainnya, seseorang akan memahami dengan jelas betapa tinggi dan mulianya amalan berbakti kepada orangtua.
Hadirin rahimakumullah,
Kewajiban berbuat baik kepada orangtua semasa hidup mereka tidaklah melihat kepada siapa dan bagaimana keadaan orangtua. Bahkan, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk berbuat baik kepada orangtuanya meskipun seandainya keduanya dalam keadaan kafir sekalipun. Sebagaimana dalam berfirman-Nya,
وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِي مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, namun pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.”(Luqman: 15)
Di dalam ayat tersebut kita memahami bahwa berbuat baik kepada orangtua tidaklah gugur, karena keduanya dalam keadaan kafir, serta memerintahkan untuk berbuat syirik atau melakukan kekafiran, meskipun perintah keduanya yang berupa kemungkaran tetap tidak boleh ditaati.
Kaum muslimin yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Berbuat baik kepada orangtua sangat banyak caranya dan sangat luas cakupannya. Bisa dilakukan dengan ucapan, perbuatan, maupun dengan harta.
Berbuat baik dengan ucapan, maka bisa dilakukan dengan menjaga tutur kata yang baik dan tidak menyakitkan serta dengan berlemah-lembut ketika berbicara kepadanya. Sedangkan berbuat baik dengan perbuatan, bisa dilakukan dengan membantu menyiapkan keperluan-keperluannya atau melakukan pekerjaan-pekerjaan lainnya untuk meringankan bebannya serta memenuhi perintah-perintah-Nya, selama bukan dalam bentuk berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan berbuat baik dengan harta, bisa dilakukan dengan menginfakkan sebagian dari hartanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
Hadirin rahimakumullah,
Berbuat baik kepada orangtua juga tidaklah terbatas pada saat keduanya masih hidup. Bahkan, di saat keduanya sudah meninggal dunia pun, berbuat baik kepadanya masih bisa dilakukan. Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz ibnu Abdullah ibnu Baz rahimahullah, salah seorang ulama terkemuka di Saudi Arabia mengatakan, “Disyariatkan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk yang telah meninggal dunia, begitu pula bersedekah atas namanya dengan berbuat baik berupa memberikan bantuan kepada fakir miskin, (yaitu) seseorang mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan perbuatan tersebut dan kemudian berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaagar menjadikan pahala dari sedekah tersebut untuk ayah dan ibunya atau selain keduanya, baik yang telah meninggal dunia maupun yang masih hidup. Hal ini karena Nabi bersabda (yang artinya), ‘Apabila seorang manusia meninggal dunia, terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang berdoa untuknya.’ Disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa ada seseorang bertanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَلَمْ تُوْصِ وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ لَتَصَدَّقَتْ، أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia dan beliau belum sempat berwasiat namun aku yakin kalau beliau sempat berbicara tentu beliau ingin bersedekah, apakah beliau (ibuku) akan mendapatkan pahala jika aku bersedekah atas namanya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Benar.” (Muttafaqun ‘alaih)
Begitu pula (akan bermanfaat untuk orang yang telah meninggal dunia) amalan ibadah haji atas nama si mayit, demikian pula ibadah umrah, serta membayarkan utang-utangnya. Semua itu akan bermanfaat untuk yang meninggal sebagaimana telah datang dalil-dalil yang syar’i menunjukkan hal tersebut.” (Majmu’ Fatawa wa Maqalat, 4/342)
Termasuk amalan berbakti kepada orangtua yang bisa dilakukan sepeninggal mereka adalah menghubungi kerabat dan teman-teman mereka. Bahkan juga dengan menghubungi atau berbuat baik kepada keluarga dari teman-teman orang tua kita. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya dari sahabat Abdullah ibnu ‘Umar ibn Al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma, bahwa beliau berjalan menuju kota Makkah dan mengendarai keledai yang ditungganginya untuk beristirahat di saat lelah. Ketika beliau sudah bosan duduk di atas kendaraannya, lewatlah di depan beliau seorang badui dan berkatalah beliau (kepada badui tersebut), “Apakah engkau Fulan ibnu Fulan?” Orang badui tersebut menjawab, “Benar.” Maka, beliau (sahabat Abdullah ibn ‘Umar radhiallahu ‘anhuma) memberikan keledainya kepada badui tersebut seraya mengatakan, “Naikilah kendaraan ini.” Kemudian beliau juga memberikan kain surbannya yang sedang dipakai seraya mengatakan, “Pakailah kain ini untuk diikatkan sebagai penutup kepalamu.” Maka, berkatalah orang-orang kepada sahabat Abdullah ibn ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, “Mudah-mudahan Allah mengampunimu. Engkau berikan kepadanya keledai yang engkau tunggangi di saat ingin beristirahat dari kelelahan dan engkau berikan imamah yang sedang engkau ikatkan di kepalamu.” Maka, ‘Abdullah ibn ‘Umar mengatakan, “Sesungguhnya dia adalah teman (orangtua saya) ‘Umar ibn Al-Khaththab’, dan sungguh saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ مِنْ أَبَرِّ الْبِرِّ صِلَةَ الرَّجُلِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ
“Sesungguhnya, termasuk dari perbuatan paling baik dalam berbakti kepada orang tua adalah seseorang berbuat baik kepada keluarga orang yang dicintai (teman) ayahnya.” (H.R. Muslim)
Lihatlah hadirin rahimakumullah, betapa luasnya kesempatan untuk berbakti kepada orangtua. Apakah kita akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menjalankan kewajiban yang mulia ini? Lihatlah pula betapa besarnya semangat para sahabat dalam menjalankan kewajiban berbakti kepada orang tua. Maka bagaimanakah dengan kita? Sudahkah kita mengikuti jalan salafush shalih dalam amalan ini?
Hadirin rahimakumullah,
Seseorang yang berbuat baik kepada orangtuanya maka dia akan mendapatkan balasan yang sangat besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan hanya di akhirat kelak, namun juga di dunia. Di antaranya adalah bahwa orang-orang yang berbuat baik kepada orang tuanya, maka akan berbuat baik pula anak-anaknya kepadanya. Karena sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil-dalil yang syar’i bahwa balasan seseorang adalah sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya. Di samping itu, seseorang yang berbuat baik kepada orang tua juga akan diberi jalan keluar dari kesulitan yang menimpanya. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya yang menceritakan tentang kisah tiga orang yang ketika masuk untuk beristirahat di dalam gua. Tiba-tiba ada batu besar yang jatuh menutup pintu gua. Maka dalam kesulitan tersebut, ketiga orang tadi bertawassul memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’aladengan menyebutkan amalan shalih yang pernah mereka lakukan. Pada akhirnya batu yang menutup pintu goa pun terbuka sehingga mereka bisa keluar dari gua tersebut. Di antara amal shalih yang disebutkan oleh salah satu dari mereka adalah perbuatan baiknya kepada orangtuanya.
Maka, di antara sebab yang akan menjadikan seseorang memperoleh jalan keluar dari kesulitan-kesulitannya adalah dengan menjalankan amalan yang mulia ini. Begitu pula di antara balasan bagi seseorang yang berbuat baik kepada orangtuanya adalah akan dimudahkannya dirinya dalam mencari rezeki dan dipanjangkan umurnya. Sebagaimana tersebut dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ أَوْ يُنْسَأَ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Barang siapa senang untuk diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah rahimnya.” (H.R. Muslim)
Berbakti kepada orang tua masuk ke dalam keumuman hadits ini karena termasuk penunaian silaturahim, dan bahkan silaturahim yang paling tinggi adalah menghubungi orang tua. Akhirnya, mudah-mudahan AllahSubhanahu wa Ta’ala selalu memberikan taufik-Nya kepada kita semua untuk bisa berbakti kepada orangtua.Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِ الْعَالَمِيْنَ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ والتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita selalu bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan kewajiban yang telah diperintahkan oleh-Nya. Sesungguhnya dengan bertakwalah seseorang akan mendapatkan akibat yang baik dan hasil akhir yang membahagiakan.
Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Setelah kita mengetahui betapa tinggi dan mulianya amalan berbakti kepada orang tua, maka tentu saja tidak semestinya bagi kita untuk menganggap remeh amalan ini. Apalagi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menjalankan kewajiban ini di saat yang sangat sulit untuk dijalankan. Yaitu di saat orang tua telah berusia lanjut, yang dalam usia tersebut tentunya orang tua dalam keadaan semakin lemah badan dan cara berpikirnya, sehingga bisa membuat seorang anak akan merasa capai dalam mengurusinya. Dalam keadaan demikian, seorang anak bisa terkena rasa bosan dan bahkan jengkel dengan perkataan maupun perbuatan yang dilakukan oleh orangtua. Namun, dalam keadaan yang demikian pun seorang anak harus bersabar dan tidak menyakiti orangtuanya dalam bentuk apapun. Hal ini tentu menunjukkan betapa ditekankannya kewajiban ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَتَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا {23} وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Jika salah seorang di antara kedua orang tua atau kedua-duanya telah berumur lanjut (dan mereka) dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Rabb-ku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah memelihara aku sewaktu kecil. (Al-Isra’: 23-24)
Di dalam ayat tersebut pula Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya menyakiti orang tua, meskipun dengan ucapan yang hanya menunjukkan kekesalan. Maka perbuatan menyakiti yang lebih dari itu lebih besar dosanya. Di dalam ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan agar seorang anak berbuat baik kepada orangtuanya. Yaitu dengan mengucapkan tutur kata yang sopan dengan merendahkan diri di hadapannya serta mendoakan kebaikan untuk keduanya.
Hadirin rahimakumullah,
Akhirnya, marilah kita berupaya untuk memperbaiki diri dalam menjalankan kewajiban kita kepada orang tua. Marilah kita senantiasa mengingat betapa tingginya amalan ini di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan betapa besarnya pengorbanan orang tua kepada kita terlebih di saat masih dalam kandungan dan saat persalinan, serta setelah dilahirkan sebagai seorang bayi. Kedua orang tua telah mengerahkan tenaga dan pikirannya, serta hartanya untuk merawat kita. Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi kita untuk berbakti kepadanya. Siapapun orang tua kita dan bagaimanapun keadaan orang tua kita. Apakah mereka orang yang miskin, cacat dan tidak berpangkat atau bahkan seandainya keduanya belum mendapatkan hidayah sehingga masih dalam keadaan kafir, berbuat bid’ah, atau terjatuh pada kemaksiatan lainnya. Hal tersebut tidaklah membuat gugurnya kewajiban kita dalam berbakti kepada orangtuanya. Bahkan, seseorang harus tetap berkata yang baik dan tidak menyombongkan dirinya, baik dengan harta dan kedudukannya, serta ilmunya di hadapan orang tuanya. Namun, dia harus berusaha membantu keperluan keduanya selama tidak melanggar syariat dan berusaha untuk menjadi sebab turunnya hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada keduanya.
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemudahan kepada kita untuk berbakti kepada orang tua, serta memberikan kepada kita kemudahan untuk senantiasa ikhlas dalam menjalankannya.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلاَةَ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلْ وِلاَيَتَنَا فِيْ مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
/Sumber : http://khotbahjumat.com
Read more ...

Jumat, 25 Juli 2014

Manfaatkan Waktu Anda Sebaik-Baiknya


Manfaatkan Waktu Anda Sebaik-Baiknya


Khutbah Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوَى، وَالَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدَى، وَالَّذِيْ أَخْرَجَ المَرْعَى، فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَى، رَبِّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكِهِ وَمُدَبِّرِهِ وَمُصَرِّفِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا نِدَّ وَلَا شَبِيْهَ وَلَا نَظِيْرَ وَلَا مَثِيْلَ، وَهُوَ السَّمِيْعُ البَصِيْرُ.
وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ بَيْنَ يَدَيَّ السَّاعَةِ بِالْحَقِّ لِيَكُوْنَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَهِدَايَةً لِلْغَاوِيْنَ، وَحُجَّةً عَلَى المُعَانِدِيْنَ، فَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِ بَيْتِهِ وَأَصْحَابِهِ المَيَامِيْنِ، وَعَلى المُقْتَدِيْنَ بِهِ وَبِهِمْ إِلَى يَوْمِ الجَزَاءِ وَالمَصِيْرِ.
أَمَّا بَعْدُ،:
Bertakwalah kalian kepada Allah wahai hamba-hamba Allah dengan sebenar-benar takwa, karena takwa kepada Allah adalah jalan menuju petunjuk, sedangkan menyelisihinya adalah jalan kesengsaraan.
Kaum muslimin sekalian :
Waktu adalah kesempatan untuk memakmurkan akhirat dan membangun kebahagiaan, atau sebaliknya waktu dapat digunakan untuk menghancurkan akhirat dan kesengsaraan yang panjang, karena mulianya waktu maka Allah bersumpah dengan bagian-bagiannya, bahkan Allah bersumpah dengan waktu semuanya; malam juga siangnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
(وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى (1) وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى)
“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang.” (QS.Al-lail: 1-2).
Dan dengan berlalunya siang dan malam terdapat peringatan dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa, AllahTa’ala berfirman :
(وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا)
“Dan Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (QS. Al-Furqan: 62).
Nabi kita Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam seluruh hidupnya adalah untuk Allah, Allah berkata kepadanya :
(قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ)
Katakanlah wahai Muhammad: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. Al-An’am: 162).
Allah juga memuji para sahabat dengan firman-Nya :
(تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ)
“Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (QS. Al-Fath: 29).
Diantara wasiat Abu bakar kepada Umar -semoga Allah meridhoi keduanya- : sesungguhnya Allah mempunyai amalan siang yang tidak Dia terima pada malam hari, dan amalan malam yang tidak Dia terima  pada siang hari. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata : saya tidak lebih menyesal dari sesuatu melebihi penyesalanku atas satu hari,  tenggelamnya matahari, yang berkurang dengannya ajalku dan tidak bertambah padanya amalanku. Dahulu para salaf radhiallahu ‘anhum sangat memanfaatkan detik-detik umur mereka, mereka memenuhi waktu dengan hal-hal yang membuat Rabb mereka ridho, berkata Hasan al-Basri rahimahullah,  “Saya mendapati kaum yang mereka lebih perhatian menjaga waktu mereka dari pada perhatian kalian menjaga dirham dan dinar kalian”.
Dan tidak akan bergerak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara, diantaranya : tentang umurnya untuk apa ia habiskan. (HR.Tirmidzi). dan panjangnya umur yang disertai dengan amal yang baik merupakan nikmat Allah yang agung, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : sebaik-baik manusia adalah : yang panjang umurnya dan baik amalannya. (HR.tirmidzi).
Hari-hari sangatlah terbatas, jika telah berlalu satu hari maka berkuranglah umurmu, dan berlalunya sebagian merupakan tanda akan berlalunya semuanya, dan seorang hamba sejak tertancap kakinya di atas muka bumi ini berarti ia sedang berjalan menuju Rabbnya, dan jarak perjalanannya ialah umurnya yang telah ditulis untuknya.
Dan yang beruntung dari hamba-hamba Allah adalah yang memanfaatkan waktunya dengan sesuatu yang bermanfaat, dan yang tertipu adalah yang menyia-nyiakan waktunya, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallambersabda: “Dua nikmat yang orang banyak tertipu pada keduanya –yaitu : lalai pada keduanya-: kesehatan dan waktu luang. (HR.Bukhari). Ibnu Batthol rahimahullah berkata: “Yang diberi taufik untuknya. Yaitu untuk memanfaatkan nikmat kesehatan dan waktu luang sangat sedikit”. Ibnu Qayyim berkata, “Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian; karena menyia-nyiakan waktu memutuskan seseorang dari Allah dan hari akhirat, sedangkan kematian hanyalah memutuskan sesorang dari dunia dan penduduknya”. Dan barang siapa yang menyia-nyiakan waktunya maka ia akan menyesali setiap detik darinya, dan siapa yang berlalu darinya sehari dari umurnya tanpa ada hak yang ia tunaikan, dan kewajiban yang ia laksanakan, atau ilmu yang ia dapatkan berarti ia telah durhaka terhadap harinya dan ia telah menyia-nyiakan umurnya .
Orang yang cerdas adalah orang yang menyibukkan waktunya dengan hal yang diridhoi oleh Rabbnya, dan jika ia telah selesai melakukan suatu amalan ia segera mengerjakan amalan yang lain, Allah Ta’ala berfirman:
(فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ)
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS.As-Syarh : 7).
Ibnu katsir mengatakan, maksudnya : jika kamu telah selesai dari urusan dunia dan kesibukannya dan engkau telah memutuskan segala hal yang berkaitan dengannya, maka bersungguh-sungguhlah menuju ibadah kepada Allah dan berdirilah kepadanya dalam keadaan bersemangat,  dan pikiran yang kosong dari hal dunia dan ikhlaskanlah niat dan harapanmu kepada Tuhanmu.
Dan diantara cara yang paling baik untuk mengisi waktu dan mengangkat derajat seseorang adalah dengan menghafal Alquran, mengulanginya, serta mentadabburinya, karena ia adalah perbendaharaan yang mahal dan perniagaan yang menguntungkan, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
أفلا يغدو أحدكم إلى المسجد فيعلم، أو يقرأ آيتين من كتاب الله عز وجل، خير له من ناقتين، وثلاث خير له من ثلاث، وأربع خير له من أربع، ومن أعدادهن من الإبل
“Tidakkah pergi seseorang diantara kalian ke mesjid sehingga ia mempelajari, atau membaca dua ayat dari kitabullah ‘Azza wa Jalla, lebih baik baginya dari dua ekor unta betina, dan tiga ayat lebih baik baginya dari tiga ekor unta, dan empat ayat lebih baik baginya dari empat ekor unta, dan lebih dari empat ayat lebih baik dari jumlahnya dari unta. (HR.Muslim).
Maka barang siapa yang dapat menghafal Alquran maka ia akan mulia, siapa yang membacanya akan terangkat, siapa yang dekat dengannya akan agung kedudukannya , dan kedudukan seorang hamba di surga adalah pada ayat terakhir yang ia baca, dan di zaman fitnah  dan terbukanya pintu syubhat dan syahwat maka berpegang teguh dengan kitabullah menjadi lebih harus dan mendekat dengannya semakin wajib.
Juga membekali diri dengan ilmu syar’i dengan cara menghadiri majlis-majlis dzikir dan hafalan hadit-hadits  Nabi serta matan-matan ilmu syariah merupakan ketinggian derajat bagi seorang muslim Allah Ta’ala berfirman :
(يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ)
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara Kalian  dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).
Imam Malik rahimahullah berkata, “Sebaik-baik amalan sunnah adalah menuntut ilmu dan mengajarkannya”, dan dengan ilmu akan bersinar martabat seseorang sekalipun ia telah meninggal.
Juga mendakwahkan agama adalah jalannya para Rasul dan orang-orang saleh, Allah Ta’ala berfirman:
(قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ)
Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik. (QS.Yusuf : 108).
Ia adalah pintu kebaikan dan keberkahan karena “Jika Allah memberi petunjuk disebabkan olehmu seorang laki-laki itu lebih baik dari onta merah” (Muttafaq ‘alaihi).
Juga berbakti kepada kedua orang tua, dan menemaninya merupakan kebahagiaan, serta dekat dengan keduanya merupakan ketenangan dan taufik, Allah berfirman tentang Nabi Isa ‘alaihissalam :
(وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا )
“Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 32).
Ibnu Katsir berkata, “Siapa yang berbakti kepada kedua orang tuanya berarti ia adalah seorang yang tawadhu dan bahagia”. Anak yang pandai akan bahagia dengan masa liburan dengan menambah bakti kepada kedua orang tuanya, membahagiakan keduanya, dan menemani keduanya, dan diantara yang dapat membuat kedua orang tua bahagia adalah : istiqamahnya seorang anak diatas agamanya, dan termasuk berbakti kepada orang tua adalah : dengan mengunjungi temannya,  dan memuliakannya sepeninggal mereka berdua. Rasulullah sallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bakti yang paling baik adalah seseorang menyambung cinta bapaknya.” (HR. Muslim).
Juga bersilaturrahmi akan mendatangkan ridho Sang Rahman, memanjangkan umur, menambah harta, memberkahi waktu, mendekatkan hati, menampakkan akhlak yang mulia, serta memunculkan indahnya perangai, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya ; maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahmi.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Juga mengunjungi para ulama dan orang-orang saleh akan mendidik jiwa, meninggikan ruh, mengangkat semangat, memperbaiki keadaan, dan mengingatkan akhirat, juga yang mengunjungi mereka akan memperoleh ilmu dan wawasan ; karena mereka adalah pewaris para Nabi, dan penyeru kepada hidayah, serta berlomba-lomba dalam kebaikan dan takwa adalah ciri orang-orang saleh Allah Ta’ala berfirman:
(وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ)
“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26).
Hasan Al-Basri mengatakan, “Jika Engkau melihat manusia dalam kebaikan, maka saingilah mereka”.
Juga teman yang baik adalah sebaik-baik penolong dalam amal saleh, dia mengajak kepada kebaikan, menganjurkan kepada keta’atan, dan orang-orang yang saling mencintai karena Allah mereka berada diatas minbar-minbar dari cahaya, para Nabi dan para syuhada iri kepada mereka. Adapun teman yang buruk, ia mengajak kepada kejelekan, dan menghalangi dari kebaikan, berteman dengan mereka akan melahirkan kesedihan dan penyesalan, Allah Ta’ala berfirman :
(وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا)
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang lalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku).(QS. Al-Furqan : 27-28).
Ibnu Mas’ud berkata, “Nilailah seseorang dengan siapa dia berteman, karena seseorang tidaklah menemani kecuali yang seperti dengannya”.
Dan melihat-lihat ke tempat-tempat fitnah dan sebab-sebabnya –dari tontonan-tontonan tv dan selainnya- membuat seseorang mengingkari nikmat dan menyebabkan gelapnya hati.
Masa liburan adalah kesempatan bagi seorang ayah untuk dekat dengan anaknya, untuk mengisi kekosongan hati, mendidik akhlak, serta meluruskan kebengkokan mereka, karena kewajiban seorang ayah terhadap anaknya sangatlah besar, juga ibu punya kewajiban terhadap anak-anak perempuannya seperti itu; dengan memperhatikan dan menjaga mereka dengan nasihat dan wejangan, memerintahkan mereka untuk berhijab, menutup aurat dan menjaga diri, Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu berkata, “Didiklah anakmu! Karena engkau akan ditanya apa yang engkau didikkan dan apa yang engkau ajarkan kepadanya”. Dan ia sebaliknya akan ditanya tentang baktinya  dan taatnya kepadamu.
Anak-anak akan senang dan terhibur jika mereka ditemani oleh ayah mereka, mereka juga dapat mencontoh akhlak seorang ayah serta mereka mengambil sifat-sifat mulia darinya, berkata Ibnu ‘Aqil –rahimahullah- : “seorang yang berakal akan memberi kepada istri dan dirinya hak keduanya, dan jika ia bersama anak-anak kecilnya dia akan nampak dalam bentuk anak kecil, serta ia menjauhi keseriusan sebagian waktu”. Dan memotivasi anak-anak untuk kebaikan termasuk cara pendidikan yang baik, berkata Ibrahim bin Adham : ayahku berkata kepadaku : “wahai anakku pelajarilah hadits, karena setiap engkau mendengar satu hadits dan engkau menghafalnya maka untukmu satu dirham”, berkata Ibrahim : “saya pun mempelajari hadits disebabkan hal ini”. Adapun sikap acuh tak acuh seorang ayah terhadap anak-anaknya dan jauhnya ia dari mereka merupakan bentuk kelalaian terhadap pendidikan mereka, juga akan memudahkan sampainya orang jahat kepada mereka, yang akan menimbulkan kesedihan dan penyesalan seorang ayah. Juga bepergian yang dibolehkan dengan anak-anak akan mendekatkan antara orang tua dan anak-anak mereka, serta menutup celah diantara mereka.
Umrah adalah perjalanan ibadah yang dapat menghapuskan dosa-dosa, dan mengangkat derajat, juga sholat di masjid Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik dari seribu sholat di mesjid lain. adapun bepergian yang diharamkan akan membuang-buang harta, juga potensi bagi seseorang untuk terkena fitnah, dan sebab banyaknya syubhat dan syahwat, dan dengannya seorang kembali dari perjalanannya dalam keadaan lebih jelek dari sebelumnya. Juga dalam masa liburan dibangun keluarga-keluarga dengan pernikahan, maka dalam rangka mensyukuri nikmat tersebut : jangan sampai prosesi walimah dicampuri dengan sesuatu yang diharamkan, dari sikap berlebih-lebihan, membuka aurat, nyanyian, atau pemotretan, dan hendaklah pernikahan tersebut tidak ada maksiat di dalamnya.
Allah memberkahi umat ini di pagi hari, menjadikan malam untuk istirahat, siang untuk mencari penghidupan, dan diantara ajaran Nabi sallallahu ‘alahi wasallam, adalah tidur diawal malam, dan sholat diakhirnya, berkata Abu Barzah Al-Aslami -radiyallahu ‘anhu- : “Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum isya dan berbincang-bincang setelahnya”(Muttafaqun ‘alaih). Dan jika begadang menjadi sebab seseorang meninggalkan sholat subuh berjama’ah, maka begadang tersebut menjadi haram.
Seorang muslim hendaklah selalu merasa diawasi oleh Allah di setiap waktu dan keadaannya, dan ia harus yakin bahwa Allah melihat apa yang ia kerjakan dan mendengar semua perkataannya, serta mengetahui apa yang ia sembunyikan di dalam hatinya, Allah Ta’ala berfirman :
(وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ)
Artinya : dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. (QS.Yunus : 61). Dan derajat iman yang paling afdhal adalah engkau mengetahui bahwasanya Allah bersamamu dimanapun engkau berada, dan diantara wasiat Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ummatnya : “bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada”(HR.Tirmidzi). dan Allah Subhanahu wa Ta’alacemburu apabila dilampaui batasan-batasannya ketika seorang sedang safar atau tinggal di negrinya, bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam : “sesungguhnya Allah cemburu, dan cemburunya Allah : apabila seseorang mendatangi apa yang Allah haramkan”(Muttafaqun ‘alaih).
Maka jadilah seorang yang menjauh dari dosa-dosa, dan berbekallah dengan amalan-amalan saleh, karena walaupun beramal saleh itu berat sesungguhnya kekosongan itu merusak, dan dirimu jika engkau tidak sibukkan dengan sesuatu yang benar maka ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan, dan seseorang terus diuji dalam keadaan lapang dan senangnya, dalam keadaan sehat ataupun terkena musibah, juga dalam keadaan diam ataupun bepergian, dan orang yang diberi taufiq adalah yang menjadikan takwa sebagai kendaraannya, dan bersegera menuju surga Tuhannya.
(وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ)
Dan katakanlah: “Beramallah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat amalan kalian, dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan”.
Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Alquranul adzhim…
نَفَعْنِيَ اللهَ وَإِيَّاكُمْ بِمَا سَمِعْتُمْ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ محمد الأَمِيْنِ المَأْمُوْنِ.
Khutbah Kedua :
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ العَظِيْمِ الجَلِيْلِ، اَلْغَفُوْرِ الرَّحِيْمِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَاتَمِ رُسُلِهِ وَأَفْضَلِهِمْ، وَآلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَتَمَمِ بِالتَّابِعِيْنَ لَهُ بِإِحْسَانٍ.
وَبَعْدُ، أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ:
Segala puji bagi Allah atas anugrah kebaikanNya, dan rasa syukur terpanjatkan kepadaNya atas taufik dan karuniaNya, dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya sebagai bentuk pengagungan kepadaNya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan RasulNya, semoga shalawat dan salam yang banyak tercurahkan kepada beliau, keluarganya dan para sahabatnya.
Kaum muslimin sekalian :
Dunia ini umurnya pendek, dan kenikmatannya akan hilang, maka janganlah engkau bergantung darinya kecuali dengan apa yang dibutuhkan oleh orang asing di selain negrinya, dan janganlah sibukkan dirimu padanya kecuali seperti sibuknya seorang asing yang mempersiapkan bekal untuk kembali kepada keluarganya, dan orang yang beriman, ia berada diantara dua ketakutan : antara dosa yang telah lalu yang ia tidak tahu apa yang Allah perbuat dengannya, dan ajal yang telah dekat yang ia tidak tahu kemana ia akan kembali, dan bagi seorang yang berakal baik, hendaklah ia tidak menyibukkan dirinya dari empat waktu : pertama : waktu ia bermunajat kepada Tuhannya, kedua : waktu ia menginstrospeksi dirinya, ketiga : waktu ia berkumpul bersama saudara-saudaranya yang menasehatinya dan memberitahukan aib-aibnya, keempat : waktu ia menyendiri antara dirinya dan kelezatan-kelezatannya pada hal yang halal dan terpuji.
Dan ketahuilah bahwasanya Allah memerintahkan kalian bershalawat dan bersalam kepada NabiNya…
اَللَّهُمَّ وَأَعِنَّا عَلَى صِيَامِ رَمَضَانَ وَقِيَامِهِ، وَاجْعَلْنَا فِيْهِ مِنَ الذَّاكِرِيْنَ الشَّاكِرِيْنَ المُتَقَبَّلَةِ أَعْمَالِهِمْ، وَقِنَا شَرَّ أَنْفُسِنَا وَالشَّيْطَانَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَأَجْدَادِنَا وَسَائِرِ أَهْلِيْنَا وَقَرَابَاتِنَا، اَللَّهُمَّ احْقِنْ دِمَاءَ المُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانْ، وَأَعِذْهُمْ مِنَ الفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَجَنِّبْهُمْ القَتْلَ وَالاِقْتَتَالَ، وَأَزِلْ عَنْهُمْ اَلْخَوْفَ وَالْجُوْعَ وَالدِّمَارَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِ المُسْلِمِيْنَ لِكُلِّ مَا يُرْضِيْكَ، وَاجْعَلْهُمْ عَامِلِيْنَ بِشَرِيْعَتِكَ، مُعْظِمِيْنَ لَهَا وَمُدَافِعِيْنَ وَنَاصِرِيْنَ، اَللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَ دِيْنَنَا وَبِلَادِنَا وَأَمْنَنَا وَأَمْوَالِنَا بِشَرٍّ وَمَكَرٍ وَضَرَرٍ فَاجْعَلْ تَدْبِيْرَهُ تَدْمِيْراً لَهُ، وَإِضْرَارَهُ سُوْءًا عَلَيْهِ، وَلَا تُمَكِّنْ لَهُ عَلَى أَحَدٍ، يَا سَمِيْعُ الدُّعَاءِ.
وَسُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ
Penerjemah: Ust. Iqbal Gunawan, Lc
Sumber : http://khotbahjumat.com/
Read more ...
Designed By